Dodot / Kampuh Alas alasan Solo
MELAYANI PEMESANAN DODOTAN DAN PERLENGKAPAN PENGANTIN FACEBOOK: www.facebook.com/parameswara.dodotan WHATSAPP: 0838.6770.8059 BB: 7618b55c TELP : 081.227.987.01
Jumat, 24 Oktober 2014
Kamis, 07 Februari 2013
BUSANA BASAHAN
Busana Basahan
Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta, Jawa Tengah. Sebab, tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. Dalam adat busana perkawinan misalnya, seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana, yang disesuaikan dengan tahapan upacara, yaitu midodareni, ijab, panggih dan sesudah upacara panggih. Pada upacara midodareni, pengantin wanita memakai busana kejawen dengan warna sawitan. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang, stagen dan kain jarik dengan corak batik. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep, yang terdiri dari baju atela, udeng, sikepan, sabuk timang, kain jarik, keris dan selop.
Saat upacara ijab, busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik, sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak, dodot bangun tulak, stagen, sabuk lengkap dengan timang dan cinde, celana panjang warna putih, keris warangka ladrang dan selop.
Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. Pengantin wanita memakai busana adat bersama, basahan. Busana basahan adalah tidak memakai baju, melainkan terdiri dari semekan atau kemben, dodot bangun tulak atau kampuh, sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kira-kira 4-5 meter, dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar, warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). Sama halnya dengan pengantin wanita, pengatin pria pun memakai busana adat basahan, berupa dodot bangun tulak, terdiri dari kuluk matak biru muda, stagen, sabuk timang, epek, dodot bangun tulak, celana cinde sekar abrit, keris warangka ladrang, kolong karis, selop dan perhiasan kalung ulur.
Pada upacara panggih ini, biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur, timang/epek, cincin, bros dan buntal. Sedangkan bagi pengantin wanita, perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul, jungkat, centung, kalung, gelang, cincin, bros, subang dan timang atau epek.
Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya, pada upacara setelah panggih, pengantin wanita memakai busana kanigaran, yaitu terdiri dari baju kebaya, kain jarik, stagen dan selop. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan, yang terdiri dari kuluk kanigoro, stagen, baju takwo, sabuk timang, kain jarik, keris warangka ladrang dan selop.
Sebagai kelengkapan, dalam busana adat perkawinan, maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. Bagi pengantin pria, cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka, mata, alis, pipi dan bibir.
Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris, swastika (misalnya bintang dan matahari), hewan (misal : burung, ular, kerbau, naga), tumbuh-tumbuhan (bunga teratai, melati) maupun alam dan manusia. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal, pilin, ikal rangkap dan pilin ganda. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang, yang melambangkan kesuburan.
Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis, seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. Sedangkan kain sido mukti, kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai.
Fungsi pakaian, awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam, misalnya untuk menutup aurat, sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu, maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan.
Pada masyarakat di Jawa Tengah, khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam, seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis, estetis, religius, sosial dan simbolik. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan; fungsi estetis, yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik; fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin, serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas.
Kain Dodot lembaran
Parameswara Dodotan Melayani pemesanan dodotan kain lembaran maupun dodotan jahit jadi.
Tersedia dodot pakem jogja dan solo juga tersedia warna dodot pilihan
Dodot Jahit Jadi
Pemesanan dan informasi lebih lanjut hubungi Parameswara Dodotan +6281.227.987.01
kunjungi kami di
http://www.facebook.com/parameswara.dodotan/photos_albums
Sabtu, 12 Januari 2013
KELENGKAPAN BUSANA KEBAYA
BUSANA PENGANTIN KEBAYA
Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa,
khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah adalah baju kebaya, kemben dan kain tapih pinjung
dengan stagen.
Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat
biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Pada busana
upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya, baju kebaya menggunakan peniti
renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik, bagian kepala
rambutnya digelung (sanggul), dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai
seperti subang, cincin, kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak
ketinggalan.
Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara, ketiak dan punggung, sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas.
Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara, ketiak dan punggung, sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas.
Dewasa ini, baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada hari-hari tertentu
saja, seperti pada upacara adat misalnya. Baju kebaya di sini adalah berupa
blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung
yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang).
Panjangnya kebaya bervariasi, mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas
sampai dengan ukuran yang di atas lutut. Oleh karena itu, wanita Jawa mengenal
dua macam kebaya, yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya
panjang yang berukuran sampai ke lutut.
Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun, baik yang polos
dengan salah satu warna seperti merah, putih, kuning, hijau, biru dan
sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. Saat ini, kebaya
pendek dapat dibuat dari bahan sutera, kain sunduri (brocade), nilon, lurik
atau bahan-bahan sintetis. Sedangkan, kebaya panjang lebih banyak menggunakan
bahan beludru, brokat, sutera yang berbunga maupun nilon yang bersulam.
Kalangan wanita di Jawa, biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan
berbentuk persegi panjang di .bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung.
Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian
depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan.
Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang
berwarna cerah. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik,
kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. Selain kain lurik, dapat juga
memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna
sebagai berikut: hijau tua dengan hitam, ungu dengan hitam, biru sedang dengan
hitam, kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Kelengkapan
perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan
liontin yang serasi, cincin, gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul.
Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru, brokat, sutera
maupun nilon yang bersulam. Dewasa ini, baju kebaya panjang merupakan pakaian
untuk upacara perkawinan. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita
Sunda, Bali dan Madura. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut, dapat pula
memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher
(krah). Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah
tua, yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. Kain jarik batik yang
berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini, tetapi biasanya tanpa
memakai selendang. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk
konde dari emas. Sedangkan, perhiasan yang dipakai juga sederhana, yaitu sebuah
sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat
kepala. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa, maka
tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde.
Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. Potongan dan
model kebaya Jawa, yang juga dipakai di Sumatera Selatan, daerah pantai
Kalimantan, Kepulauan Sumbawa, dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. Baju
ini terdiri dari dua helai potongan, yaitu sehelai bagian depan dan sehelai
lagi potongan bagian belakang, serta dua buah lengan baju. Modelnya dapat
ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai
penyambung antara kedua potongan bagian muka.
Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan
krup. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan
payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Sedangkan, lipatan bawah
bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan
dengan agak meruncing. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan
kebaya. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk
vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. Semua
potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan
tangan.
Sedangkan busana di kalangan pria, khususnya kerabat keraton adalah memakai
memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya, pada kepala
memakai destar (blankon), kain samping jarik, stagen untuk mengikat kain
samping, keris dan alas kaki (cemila). Busana ini dinamakan Jawi Jangkep, yaitu
busana pria Jawa secara lengkap dengan keris.
Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton, tidak berarti
busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. Busana adat tradisional
rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. Busana yang dipakai adalah
celana kolor warna hitam, baju lengan panjang, ikat pinggang besar, ikat kepala
dan kalau sore pakai sarung. Namun pada saat upacara perkawinan, bagi orang tua
mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. Bajunya beskap
atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar.
Parameswara Dodotan menerima pemesanan dodot/kampuh jogja solo,dodot domas,dodot patah,kain cinde,kuluk, selop,blangkon,accesories, kelengkapan busana pengantin, batik dll..
@facebook.com/parameswara dodotan.
Set Dodot Bordir
Set Dodotan Merah Hati Putra- Putri dengan Kuluk, Selop, Dan cinde
Parameswara Dodotan Melayani pemesanan dodotan kain lembaran maupun dodotan jahit jadi.
Tersedia dodot pakem jogja dan solo juga tersedia warna dodot pilihan
Set Dodotan Merah Bata Putra- Putri dengan Kuluk, Selop, Dan cinde
Dodot Bordir 1 Atau 2 benang bordir:
- Hijau Botol
- Hijau Tosca
- Hijau Ayu
- Merah Maroon
- Merah Hati
- Merah Bata
- Merah Cabe
- Merah Muda / Pink
- Biru
- Oranye
- Ungu
- Hitam Kuning
Dodot prodo :
- Jogja Prodo (Hitam Sogan Prodo Warna emas / kombinasi)
- Jogja solo ( Bermacam warna dodot dengan prodo / prodo blok warna emas,silver,dan warna pilihan)
- Solo brom alas alasan
- Merah
- Merah oranye ( jogja)
- Biru
- Kuning
- Ungu
- Oranye
- Kuluk dan Selop Warna Emas
- Kuluk dan Selop Corak Dodotan
- Kuluk dan Selop Warna Hitam Bludru
Pemesanan dan informasi lebih lanjut hubungi Parameswara Dodotan +6281.227.987.01
kunjungi kami di
http://www.facebook.com/parameswara.dodotan/photos_albums
Sabtu, 15 September 2012
DODOT PRODO BLOK
Dodot Prodo ini berbahan dasar warna hitam, dan dihiasi dengan prodo-prodo mewah warna gold dan silver. Untuk mempertegas nuansa yang diinginkan, dodot ini pun dimodifikasi dengan blok prodo yang beraneka ragam. Biru, merah, hijau, ungu, dengan degradasi warna muda hingga tua. Mewah dan Elegan.
Parameswara dodotan
menerima pemesanan dodot /kampuh jogja dan solo, Dodot Domas, Dodot Patah,kain cinde, kuluk,selop, blangkon, accesories pengantin logam, Perlengkapan pengantin, pemesanan bordir dan prodo kain, batik Dll.
@ facebook.com/parameswara dodotan.
Sabtu, 08 September 2012
KAIN DODOT / KAMPUH JOGJA DAN SOLO
DODOT PRODO BLOK
- Panjang Kain 4,5 meter
- Batik Tulis / Cap
- Prodo Karet
Parameswara dododotan melayani pemesanan dodot /kampuh gaya Solo dan Jogja, dengan berbagai motif dan warna.
Juga melayani pemesanan Kain Cinde, Patah,Domas,Asesoris perlengkapan pengantin, blangkon, batik DLL
info: Parameswara@yahoo.com
Juga melayani pemesanan Kain Cinde, Patah,Domas,Asesoris perlengkapan pengantin, blangkon, batik DLL
info: Parameswara@yahoo.com
Minggu, 18 Maret 2012
RAGAM BUSANA PENGANTIN YOGYA
BUSANA PENGANTIN YOGYA
Busana pengantin Yogya memiliki kekhasan pada lembaran dodot kampuh, cinde,
dan batik yang melekat erat yang memancarkan keagungan gaya bangsawan. Ragam
corak busana pengantin tradisi Keraton Yogyakarta :
Yogya Putri
Busana
pengantin Yogya Putri biasanya dikenakan pada saat upacara sepasaran atau
sepekanan sehingga busana ini dapat disebut juga sebagai busana corak
sepasaran. Sepasaran adalah hari ke lima setelah upacara panggih. Pada zaman
dahulu busana pengantin Yogya Putri ini dipakai oleh pengantin putra dan putri
Dalem pada waktu berkunjung ke Gubernur Belanda. Waktunya antara hari ke-5 dan
ke-35. Hari ke-35 setelah upacara panggih disebut dengan selapanan
Mempelai wanita mengenakan kebaya modern beludru
panjang yang berhias bordir keemasan, kain batik prada, sanggul tekuk yang
berhias mentul besar. Mempelai pria mengenakan baju sikepan, kain prada, dan
kuluk kanigara.
Paes Ageng Kebesaran atau Paes Ageng
Mempelai putri mengenakan dodot atau kampuh dengan perhiasan, paes hitam dengan prada, rambut sanggul bokor dengan gajah ngolig. mempelai pria mengenakan kuluk, ukel ngore –buntut rambut menjuntai– yg dilengkapi sisir dan cundhuk mentul kecil.
Mempelai putri mengenakan dodot atau kampuh dengan perhiasan, paes hitam dengan prada, rambut sanggul bokor dengan gajah ngolig. mempelai pria mengenakan kuluk, ukel ngore –buntut rambut menjuntai– yg dilengkapi sisir dan cundhuk mentul kecil.
Busana Paes Ageng disebut juga dengan busana Basahan. Busana pengantin Paes Ageng dipakai oleh putra-putri Sri Sultan Hamengku Buwana pada perkawinan agung di dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Disebut Paes Ageng karena busana tersebut dipakai pada saat perkawinan agung. Busana paes Ageng digunakan untuk perjamuan pada saat upacara Panggih, yaitu upacara bertemunya kedua mempelai. Namun pada masa sekarang busana tersebut biasa dipakai pada saat upacara Panggih sampai upacara Pahargyan (resepsi pengantin), yang bertujuan untuk kepraktisan, pengantin tidak perlu berkali-kali berganti pakaian.
Paes Yogya tradisional mengenakan prada,tata rambut tanpa sunggar, sanggul bentuk bokor mengkurep, berhias lima buah cunduk mentul, rajut melati dan gajah ngolig, perhiasan kalung susun tiga, gelang tangan dan kelat bahu
Paes Ageng Kanigaran
sekilas seperti Yogya Jangan Menir. Yang membedakan ialah penggunaan dodot kampuh melapisi kain cinde warna merah keemasan. Kebaya beludru hitam panjang berhias benang keemasan yg menyatu dgn dodot kampuh, cinde, dan detil pada riasan.
Pada busana pengantin Paes Ageng pengantin pria mengenakan kuluk atau tutup kepala atau mahkota warna biru, tanpa baju, bercelana cinde, dan sandal selop, kain dodot dua lapis. Pada pending atau ikat pinggang diselipkan keris, hiasan dada berbentuk bulan sabit bertingkat, kalung rantai panjang dan kelat bahu. Sedangkan busana pengantin wanita tatarias rambut sangat khas yaitu rambut sanggul bokor mengkureb dengan gajah ngolig, berhias lima buah cunduk mentul, rajut melati, gelang tangan, danmemakai kelat bahu. Pengantin wanita tidak mengenakan baju tetapi langsung memakai semekan atau penutup dada, hiasan dada berbentuk bulan sabit bertingkat. Busana bawah sama seperti pengantin pria hanya berbeda teknis pengaturannya dan terdapat selendang cinde menjurai ke bawah dari pending atau ikat pinggang
Paes Ageng Jangan Menir
Busana
pengantin Busana Paes Ageng Jangan Menir juga dipakai oleh putra-putri Sri
Sultan Hamengku Buwana pada saat perkawinan agung di dalam Keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat. Busana Paes
Ageng Jangan Menir digunakan untuk upacara boyongan pengantin wanita ke
kediaman pengantin pria, yaitu semalam sesudah peresmian.
Pada masa sekarang ini, busana pengantin Paes Ageng Jangan Menir juga dapat digunakan oleh para pengantin pada umumnya, bukan hanya di kalangan Keraton saja yang mengenakannya. Jadi, pengantin dari kalangan manapun boleh mengenakan busana pengantin Paes Ageng Jangan Menir ini dan dari pihak Keratonpun tidak melarangnya.
Busana pengantin Paes Ageng Jangan Menir menggunakan mahkota berwarna hitam kotak-kotak, memakai jas tutup dan hiasan dada berbentuk bulan sabit bertingkat. Busana bawahnya yaitu bebed dan tidak memakai dodot, tetapi menggunakan kain wiron. Busana wanita, tata rias rambut dan hiasannya yaitu cunduk mentul, memakai baju panjang, hiasan dada berbentuk bulan sabit dan bros. busana bawahnya yaitu kain nyamping wiron dan cinde menjurai ke bawah yang dimulai dari pending
Pada masa sekarang ini, busana pengantin Paes Ageng Jangan Menir juga dapat digunakan oleh para pengantin pada umumnya, bukan hanya di kalangan Keraton saja yang mengenakannya. Jadi, pengantin dari kalangan manapun boleh mengenakan busana pengantin Paes Ageng Jangan Menir ini dan dari pihak Keratonpun tidak melarangnya.
Busana pengantin Paes Ageng Jangan Menir menggunakan mahkota berwarna hitam kotak-kotak, memakai jas tutup dan hiasan dada berbentuk bulan sabit bertingkat. Busana bawahnya yaitu bebed dan tidak memakai dodot, tetapi menggunakan kain wiron. Busana wanita, tata rias rambut dan hiasannya yaitu cunduk mentul, memakai baju panjang, hiasan dada berbentuk bulan sabit dan bros. busana bawahnya yaitu kain nyamping wiron dan cinde menjurai ke bawah yang dimulai dari pending
Pengantin putri mengenakan baju blenggen bahan bludru, pinggang dililit
selendang yang berhias pendhing, dan kuluk kanigara. Paes Ageng Jangan Menir
tidak mengenakan kain kampuh atau dodot. Hal ini digunakan untuk membedakan
dengan corak Paes Ageng Kanigaran.
Kesatrian
Busana
pengantin Kesatrian dikenakan pada saat upacara pahargyani atau resepsi pernikahan.
Busana pengantin Kesatrian merupakan busana pengantin yang paling sederhana.
Meskipun sederhana, namun busana pengantin ini tampak anggun dan berwibawa.
Busana pengantin ini bersifat mencerminkan situasi yang santai atau tidak
formal. Pada masyarakat umum busana pengantin Kesatrian biasanya juga dikenakan
pada saat upacara ngundhuh mantu atau boyongan pengantin.
Busana pengantin kesatrian pada pengantin pria mengenakan blangkon atau tutup
kepala, baju surjan kembangan, kalung panjang dengan bros di dada, jam saku
dengan rantai panjang menyilang di perut, bebed wiron, dan sandal selop.
Sedangkan pada busana pengantin wanita tata riasnya tidak banyak mengenakan
kembang goyang, baju panjang kembang tampak longgar tetapi rapi, kain nyamping
semotif dengan yang dikenakan oleh pengantin pria serta mengenakan sandal
selop.
Busana
Pengantin Kesatrian Ageng
Busana pengantin Kesatrian Ageng biasa dikenakan pada saat upacara pahargyan atau resepsi pernikahan. Busana pengentin Kesatrian ageng bersifat semi-formal. Oleh karena itu, busana ini jarang dikenakan pada saat upacara panggih atau upacara bertemunya kedua mempelai pengantin pria dan wanita. Busana pengantin Kesatrian Ageng juga dikenakan oleh Ngarsadalem dan putra-putri pangeran pada tanggal 20 malam bulan maulud. Karena busana ini selalu dikenakan pada tanggal 20 malam, busana ini juga disebut busana malem selikuran
Busana pengantin Kesatrian Ageng biasa dikenakan pada saat upacara pahargyan atau resepsi pernikahan. Busana pengentin Kesatrian ageng bersifat semi-formal. Oleh karena itu, busana ini jarang dikenakan pada saat upacara panggih atau upacara bertemunya kedua mempelai pengantin pria dan wanita. Busana pengantin Kesatrian Ageng juga dikenakan oleh Ngarsadalem dan putra-putri pangeran pada tanggal 20 malam bulan maulud. Karena busana ini selalu dikenakan pada tanggal 20 malam, busana ini juga disebut busana malem selikuran
Mempelai wanita mengenakan Paes Yogya Putri, kebaya panjang bahan lace dan
kain batik prada, bersanggul gelung tekuk. Mempelai pria mengenakan beskap
putri dengan kain batik prada dan blangkon.
Tradisi dan Kontemporer
perpaduan Paes Ageng pada tata rias dengan kebaya panjang berkerah Victorian
lengkap dengan kain prada. Atau, riasan Paes Ageng dengan kebaya panjang lace
putih aplikasi payet hijau lumut dan kain batik prada
Rabu, 14 Maret 2012
DODOTAN DAN TARI BEDHAYA KETAWANG
Dodot motif alas - alasan
Busana dan tata
rias yang dikenakan penari dalam pagelaran tari Bedhaya Ketawang adalah
layaknya pengantin putri Kraton Surakarta. Hal tersebut dikarenakan tari
Bedhaya Ketawang merupakan reaktualisasi pernikahan Panembahan Senopati dan Kanjeng
Ratu Kidul, sehingga busana yang dikenakan haruslah busana pengantin, yang
lazim disebut sebagai Basahan. Busana tersebut meliputi kain dodot, samparan,
serta sondher. Dodot merupakan kain yang memiliki ukuran 2 atau 2,5 kali kain
panjang biasa, hingga panjang dodot bisa mencapai 3,75 hingga 4 meter. Pada
masa lalu, kain ini hanya dikenakan oleh raja dan keluarga serta kaum ningrat
untuk upacara tertentu, sepasang pengantin keraton, serta penari Bedhaya dan
Serimpi.
Sebagaimana pengantin, maka
dodot yang digunakan bermotif alas-alasan. Tarian ini memiliki dua penari
utama, yaitu batak dan endhel ajeg yang dapat dibedakan dari warna dodot
mereka. Meskipun memiliki motif yang sama yaitu alas-alasan, tetapi warnanya
berbeda. Batak dan endhel ajeg mengenakan dodot alas-alasan berwarna hijau
gelap yang disebut dodot gadung mlathi, sedangkan 7 penari lainnya mengenakan
dodot alas-alasan berwarna biru gelap yang disebut dodot bangun tulak.
Kata bangun tulak berasal dari
kata bango dan tulak. Bango merupakan nama sejenis burung yang dipercaya
memiliki umur yang sangat panjang. Sementara itu tulak berarti mencegah bala
atau kejahatan. Versi lain kain alas-alasan adalah gadhung mlathi yang memiliki
lapisan bawah berwarna hijau sesuai dengan makna gadhung dan lapisan tengah
berwarna putih sebagaimana warna bunga melati. Kain tersebut dikenakan sebagai
bentuk penghormatan pada Kanjeng Ratu Kidul, karena dipercaya beliau sangat
menyukai warna hijau. Selain itu hijau merupakan simbol kemakmuran,
ketentraman, dan rasa ketenangan. Lembaran kain dodot tersebut dihiasi dengan
motif alas-alasan, yang berarti rimba raya. Penamaan ini berkaitan dengan
elemen-elemen yang membentuk motif tersebut, yaitu penggambaran seisi belantara
yang meliputi aneka jenis hewan dan tumbuhan, yaitu:
a. Ragam
hias garuda
Dalam batik motif semen, motif
garuda merupakan motif yang paling tinggi kedudukannya di antara motif lain.
Garuda dipercaya sebagai burung dewa, kendaraan Wisnu, dan sekaligus sebagai
simbol matahari. Dalam konsep dewa raja, raja diposisikan sebagai titisan Wisnu
(dewa pemelihara), sehingga kendaraannya disejajarkan dengan kendaraan Wisnu.
Simbol garuda dapat meninggikan kedudukan raja yang berkuasa.
b. Ragam
hias kura-kura
Kura-kura dipercaya sebagai
lambang dunia bawah atau lambang bumi. Dalam agama Hindu, kura-kura merupakan
penjelmaan Wisnu yang diharapkan akan dapat menjalankan tugasnya menjaga bumi
bila bersatu dengan istrinya yaitu Dewi Sri atau Dewi Kesuburan.
c. Ragam
hias ular
Ular dianggap sebagai simbol perempuan
dan merupakan bagian dari konsep kesuburan, hujan, samudera, dan bulan.
Sementara itu naga sebagai ular dewa merupakan lambang air dan bumi. Watak
tersebut dilambangkan sebagai Dewi Sri. Dalam pengertian simbol, naga
melambangkan dunia bawah, air, perempuan, bumi, dan yoni.
d. Ragam
hias burung
Burung merupakan lambang dunia
atas yang menggambarkan elemen hidup dari udara (angin) dan melambangkan watak
luhur. Kadangkala burung menjadi lambang nenek moyang yang telah meninggal atau
dipakai sebagai kendaraan roh menuju Tuhannya. Penggunaan ragam hias burung
melambangkan bahwa manusia pada akhirnya akan kembali ke asalnya, yaitu kepada
Sang Pencipta.
e. Ragam
hias Meru
Motif meru merupakan simbol
gunung. Menurut paham Indonesia kuno, gunung melambangkan unsur bumi atau
tanah. Pada kebudayaan Jawa Hindu, puncak gunung yang tinggi merupakan tempat
bersemayam para dewa. Sementara itu pada pola batik, ragam hias meru
menyimbolkan tanah atau bumi yang menggambarkan proses hidup tumbuh di atas
tanah.
f. Ragam
hias Pohon Hayat
Melambangkan kesatuan dan
ke-Esaan. Bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta
g. Ragam
hias Ayam Jantan
Di Indonesia dipandang sebagai
symbol keberanian dan tanggung jawab
h. Ragam
hias kijang
Kijang adalah lambang kelincahan
dan kebijaksanaan yang menyimbolkan kelincahan dalam berfikir dan mengambil
tindakan serta keputusan.
i. Ragam
hias gajah
Merupakan lambang kendaraan raja
yang melambangkan kedudukan luhur, mengandung arti sesuatu yang paling tinggi,
paling besar, dan paling baik agar menjadi manusia sempurna.
j. Ragam
hias burung bangau
Burung bangau dipercaya memiliki
umur yang sangat panjang bahkan dapat mencapai ratusan tahun. Ia dianggap
sebagai lambang penolakan keadaan yang tidak baik, sehingga diharapkan dapat
menghindari atau menjauhi bahaya apapun, supaya pada akhirnya dapat meraih
keselamatan dan berumur panjang.
k. Ragam
hias harimau
Melambangkan keindahan yang
disertai wibawa dan tangguh dalam menghadapi lawan
l. Ragam
hias motif kawung
Motif ini tersusun atas bentuk
elips, yang dapat diinterpretasikan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan
4 lembar daun bunganya yang sedang mekar. Bunga ini melambangkan umur panjang
dan kesucian. Dewa juga dilambangkan dengan bunga teratai. Berdasarkan hal
tersebut, maka motif kawung menyimbolkan kedudukan raja sebagai pusat kekuasaan
mikrokosmos sejajar dengan dewa sebagai pusat kekuasaan makrokosmos.
Pada hakikatnya penggunaan kain
dodot dengan motif alas-alasan tersebut memiliki harapan yang baik sekaligus
sebagai penolak bala. Hal ini sesuai dengan ornamen-ornamen yang digambarkan
pada lembaran kain tersebut.
Namun sebelum dodot dipakai,
terlebih dahulu dikenakan samparan, yaitu kain panjang yang dikenakan sebagai
pakaian dalam bagian bawah. Kain tersebut berukuran 2,5 kacu atau 2,5 kali
lebar kain yang dikenakan dengan cara melilitkan kain dari kiri ke kanan. Sisa
kain yang biasanya digunakan sebagai wiron diurai ke bawah, di antara kedua
kaki mengarah ke belakang sehingga membentuk semacam ekor yang disebut seredan.
Pemakaian kain jenis ini disebut samparan. Dalam suatu pagelaran, kain yang
digunakan sebagai samparan adalah cindhe dengan motif Cakaran berwarna merah.
Selanjutnya dikenakan sondher,
yaitu kain panjang menyerupai selendang yang dikenakan untuk menari. Kain
tersebut biasanya memiliki panjang 3 meter dan lebar 50 cm, yang disebut sampur
atau udhet. Dalam suatu pagelaran, sondher yang dikenakan bermotif cindhe sekar
warna merah, ujungnya berhias gombyok atau rumbai warna emas
Selasa, 13 Maret 2012
BUSANA DAN PERHIASAN PAES AGENG
Busana Paes Ageng :
Kain Dodot/Kampuh berukuran 4 – 5 meter dengan lebar 2-3 meter. Motif batik
yang sering digunakan adalah Sido Mukti, Sido Asih, Semen Rama, Truntum. Motif-motif tersebut mempunyai makna filosofi yang sangat bagus berupa harapan
akan berlangsungnya kehidupan rumah tangga yang kekal, saling berbagi dan
mengisi dengan cinta kasih dan harapan akan dikaruniai hidup sejahtera
Selain kain panjang, pengantin putri memakai pakaian dalam dan selendang kecil
(udet) berupa kain sutra motif cinde. Konon motif ini merupakan lambang sisik
naga, yaitu symbol kekuatan. Sumber lain mengatakan bahwa motif cinde
sebagai penghormatan kepada Dewi Sri, dewi kesuburan dan kemakmuran
Asesori
Paes Ageng :
Perhiasan yang dipergunakan pengantin putri disebut pula dengan nama raja keputren. Semua terbuat dari emas bertahtakan berlian yang dirancang dengan
seni tinggi dan sangat halus. Set perhiasan ini berupa :
- Cunduk Menthul
5 tangkai bunga dipasang di
atas sanggul menghadap belakang, menggambarkan sinar matahari yang
berpijar memberi kehidupan, sering juga dikaitkan dengan lima hal yang menjadi
dasar kerajaan Mataram Islam ini, seperti yang tercantum dalam Kitab Suci.
- Pethat/sisir
berbentuk gunung
Hiasan berupa sisir terbuat dari
emas diletakkan di atas sanggul berbentuk seperti gunun, sebagai simbol
kesakralan. Dalam mitologi Hindu, gunung adalah tempat bersemayam nenek moyang
dan tempat tinggal para dewa serta pertapa.
- Kalung Sungsun
(kalung terdiri 3 susun)
Melambangkan 3 tingkatan kehidupan
manusia dari lahir, menikah, meninggal. Hal ini dihubungkan dengan konsepsi
Jawa tentang alam baka, alam antara, dan alam fana
- Gelang Binggel
Kana
Berbentuk melingkar tanpa ujung
pangkal yang melambangkan kesetiaan tanpa batas
- Kelat Bahu (perhiasan
pada pangkal lengan)
Berbentuk seekor naga, kepala dan
ekornya membelit. Melambangkan bersatunya pola rasa dan pikir yang mendatangkan
kekuatan dalam hidup. Dalam mitologi Jawa, Naga merupakan hewan suci
yang dipercaya menyangga dunia
- Centhung
Perhiasan berupa sisir kecil
bertahtakan berlian di letakkan diatas dahi pada sisi kiri dan kanan.
Melambangkan bahwa pengantin putri telah siap memasuki pintu gerbang kehidupan
rumah tangga
- Cincin
Menurut beberapa serat yang ditulis
sejak jaman Sultan Agung seperti serat Centhini, serat Wara Iswara
(Sunan PB IX) ditulis bahwa para putrid tidak diperkenankan memakai cincin di
jari tengah. Karena sebagai symbol satu perintah untuk diunggulkan, yaitu milik
Tuhan. Cincin di jari manis sebagai symbol untuk senantiasa bertutur kata
manis. Cincin di jari kelingking symbol untuk selalu trampil dan giat dalam
mengerjakan pekerajaan rumah tangga. Cincin di ibu jari sebagai symbol untuk
senantiasa melakukan pekerjaan dengan ikhlas dan terbaik.
Parameswara Dodotan melayani pemesanan dodotan kain maupun potongan jadi gaya solo, jogja, kombinasi jogja solo, beserta patah
juga melayani pemesanan aksesoris perhiasan pengantin dan pernik2 pengantin lainya
pemesanan hubungi kami di:
Langganan:
Postingan (Atom)









