Sabtu, 12 Januari 2013

KELENGKAPAN BUSANA KEBAYA



BUSANA PENGANTIN KEBAYA
Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa, khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah adalah baju kebaya, kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya, baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik, bagian kepala rambutnya digelung (sanggul), dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang, cincin, kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan.
Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara, ketiak dan punggung, sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas.

Dewasa ini, baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada hari-hari tertentu saja, seperti pada upacara adat misalnya. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). Panjangnya kebaya bervariasi, mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. Oleh karena itu, wanita Jawa mengenal dua macam kebaya, yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut.

Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun, baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah, putih, kuning, hijau, biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. Saat ini, kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera, kain sunduri (brocade), nilon, lurik atau bahan-bahan sintetis. Sedangkan, kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru, brokat, sutera yang berbunga maupun nilon yang bersulam. Kalangan wanita di Jawa, biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di .bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung.

Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik, kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. Selain kain lurik, dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam, ungu dengan hitam, biru sedang dengan hitam, kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi, cincin, gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul.

Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru, brokat, sutera maupun nilon yang bersulam. Dewasa ini, baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda, Bali dan Madura. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut, dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua, yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini, tetapi biasanya tanpa memakai selendang. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. Sedangkan, perhiasan yang dipakai juga sederhana, yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa, maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde.

Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. Potongan dan model kebaya Jawa, yang juga dipakai di Sumatera Selatan, daerah pantai Kalimantan, Kepulauan Sumbawa, dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. Baju ini terdiri dari dua helai potongan, yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang, serta dua buah lengan baju. Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka.
Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Sedangkan, lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan.

Sedangkan busana di kalangan pria, khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya, pada kepala memakai destar (blankon), kain samping jarik, stagen untuk mengikat kain samping, keris dan alas kaki (cemila). Busana ini dinamakan Jawi Jangkep, yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris.
Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton, tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam, baju lengan panjang, ikat pinggang besar, ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. Namun pada saat upacara perkawinan, bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar.


Parameswara Dodotan menerima pemesanan dodot/kampuh jogja solo,dodot domas,dodot patah,kain cinde,kuluk, selop,blangkon,accesories, kelengkapan busana pengantin, batik dll..
@facebook.com/parameswara dodotan.

Set Dodot Bordir


Set Dodotan Merah Hati Putra- Putri dengan Kuluk, Selop, Dan cinde


Parameswara Dodotan Melayani pemesanan dodotan kain lembaran maupun dodotan jahit jadi.
Tersedia dodot pakem jogja dan solo juga tersedia warna dodot pilihan 



Set Dodotan Merah Bata Putra- Putri dengan Kuluk, Selop, Dan cinde

Dodot Bordir 1 Atau 2 benang bordir:
  • Hijau Botol
  • Hijau Tosca
  • Hijau Ayu
  • Merah Maroon
  • Merah Hati
  • Merah Bata
  • Merah Cabe
  • Merah Muda / Pink
  • Biru
  • Oranye
  • Ungu
  • Hitam Kuning

Dodot prodo :
  • Jogja Prodo (Hitam Sogan Prodo Warna emas / kombinasi)
  • Jogja solo ( Bermacam warna dodot dengan  prodo / prodo blok warna emas,silver,dan warna pilihan)
  • Solo brom alas alasan

 Cinde:
  • Merah
  • Merah oranye ( jogja)
  • Biru
  • Kuning
  • Ungu
  • Oranye

Kuluk Dan Selop :
  • Kuluk dan Selop Warna Emas
  • Kuluk dan Selop Corak Dodotan
  • Kuluk dan Selop Warna Hitam Bludru
Pemesanan dan informasi lebih lanjut hubungi Parameswara Dodotan +6281.227.987.01
kunjungi kami di 
http://www.facebook.com/parameswara.dodotan/photos_albums

Sabtu, 15 September 2012

DODOT PRODO BLOK



Dodot Prodo ini berbahan dasar warna hitam, dan dihiasi dengan prodo-prodo mewah warna gold dan silver. Untuk mempertegas nuansa yang diinginkan, dodot ini pun dimodifikasi dengan blok prodo yang beraneka ragam. Biru, merah, hijau, ungu, dengan degradasi warna muda hingga tua. Mewah dan Elegan.


Parameswara dodotan 
menerima pemesanan dodot /kampuh jogja dan solo, Dodot Domas, Dodot Patah,kain cinde, kuluk,selop, blangkon, accesories pengantin logam, Perlengkapan pengantin,  pemesanan bordir dan prodo kain, batik Dll.


@ facebook.com/parameswara dodotan.

Sabtu, 08 September 2012

KAIN DODOT / KAMPUH JOGJA DAN SOLO


 DODOT PRODO BLOK 



  • Panjang Kain 4,5 meter
  • Batik Tulis / Cap
  • Prodo Karet
Parameswara dododotan melayani pemesanan dodot /kampuh gaya Solo dan Jogja, dengan berbagai motif dan warna.
Juga melayani pemesanan Kain Cinde, Patah,Domas,Asesoris perlengkapan pengantin, blangkon, batik DLL

info: Parameswara@yahoo.com  


Minggu, 18 Maret 2012

RAGAM BUSANA PENGANTIN YOGYA



BUSANA PENGANTIN YOGYA

Busana pengantin Yogya memiliki kekhasan pada lembaran dodot kampuh, cinde, dan batik yang melekat erat yang memancarkan keagungan gaya bangsawan. Ragam corak busana pengantin tradisi Keraton Yogyakarta :

Yogya Putri
Busana pengantin Yogya Putri biasanya dikenakan pada saat upacara sepasaran atau sepekanan sehingga busana ini dapat disebut juga sebagai busana corak sepasaran. Sepasaran adalah hari ke lima setelah upacara panggih. Pada zaman dahulu busana pengantin Yogya Putri ini dipakai oleh pengantin putra dan putri Dalem pada waktu berkunjung ke Gubernur Belanda. Waktunya antara hari ke-5 dan ke-35. Hari ke-35 setelah upacara panggih disebut dengan selapanan 
Mempelai wanita mengenakan kebaya modern beludru panjang yang berhias bordir keemasan, kain batik prada, sanggul tekuk yang berhias mentul besar. Mempelai pria mengenakan baju sikepan, kain prada, dan kuluk kanigara.

Paes Ageng Kebesaran atau Paes Ageng
Mempelai putri mengenakan dodot atau kampuh dengan perhiasan, paes hitam dengan prada, rambut sanggul bokor dengan gajah ngolig. mempelai pria mengenakan kuluk, ukel ngore –buntut rambut menjuntai– yg dilengkapi sisir dan cundhuk mentul kecil.
Busana Paes Ageng disebut juga dengan busana Basahan. Busana pengantin Paes Ageng dipakai oleh putra-putri Sri Sultan Hamengku Buwana pada perkawinan agung di dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Disebut Paes Ageng karena busana tersebut dipakai pada saat perkawinan agung. Busana paes Ageng digunakan untuk perjamuan pada saat upacara Panggih, yaitu upacara bertemunya kedua mempelai. Namun pada masa sekarang busana tersebut biasa dipakai pada saat upacara Panggih sampai upacara Pahargyan (resepsi pengantin), yang bertujuan untuk kepraktisan, pengantin tidak perlu berkali-kali berganti pakaian. 
Paes Yogya tradisional mengenakan prada,tata rambut tanpa sunggar, sanggul bentuk bokor mengkurep, berhias lima buah cunduk mentul, rajut melati dan gajah ngolig, perhiasan kalung susun tiga, gelang tangan dan kelat bahu

Paes Ageng Kanigaran
sekilas seperti Yogya Jangan Menir. Yang membedakan ialah penggunaan dodot kampuh melapisi kain cinde warna merah keemasan. Kebaya beludru hitam panjang berhias benang keemasan yg menyatu dgn dodot kampuh, cinde, dan detil pada riasan.
Pada busana pengantin Paes Ageng pengantin pria mengenakan kuluk atau tutup kepala atau mahkota warna biru, tanpa baju, bercelana cinde, dan sandal selop, kain dodot dua lapis. Pada pending atau ikat pinggang diselipkan keris, hiasan dada berbentuk bulan sabit bertingkat, kalung rantai panjang dan kelat bahu. Sedangkan busana pengantin wanita tatarias rambut sangat khas yaitu rambut sanggul bokor mengkureb dengan gajah ngolig, berhias lima buah cunduk mentul, rajut melati, gelang tangan, danmemakai kelat bahu. Pengantin wanita tidak mengenakan baju tetapi langsung memakai semekan atau penutup dada, hiasan dada berbentuk bulan sabit bertingkat. Busana bawah sama seperti pengantin pria hanya berbeda teknis pengaturannya dan terdapat selendang cinde menjurai ke bawah dari pending atau ikat pinggang 

Paes Ageng Jangan Menir
Busana pengantin Busana Paes Ageng Jangan Menir juga dipakai oleh putra-putri Sri Sultan Hamengku Buwana pada saat perkawinan agung di dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Busana Paes Ageng Jangan Menir digunakan untuk upacara boyongan pengantin wanita ke kediaman pengantin pria, yaitu semalam sesudah peresmian.
Pada masa sekarang ini, busana pengantin Paes Ageng Jangan Menir juga dapat digunakan oleh para pengantin pada umumnya, bukan hanya di kalangan Keraton saja yang mengenakannya. Jadi, pengantin dari kalangan manapun boleh mengenakan busana pengantin Paes Ageng Jangan Menir ini dan dari pihak Keratonpun tidak melarangnya.
Busana pengantin Paes Ageng Jangan Menir menggunakan mahkota berwarna hitam kotak-kotak, memakai jas tutup dan hiasan dada berbentuk bulan sabit bertingkat. Busana bawahnya yaitu bebed dan tidak memakai dodot, tetapi menggunakan kain wiron. Busana wanita, tata rias rambut dan hiasannya yaitu cunduk mentul, memakai baju panjang, hiasan dada berbentuk bulan sabit dan bros. busana bawahnya yaitu kain nyamping wiron dan cinde menjurai ke bawah yang dimulai dari pending 
Pengantin putri mengenakan baju blenggen bahan bludru, pinggang dililit selendang yang berhias pendhing, dan kuluk kanigara. Paes Ageng Jangan Menir tidak mengenakan kain kampuh atau dodot. Hal ini digunakan untuk membedakan dengan corak Paes Ageng Kanigaran.

Kesatrian 
Busana pengantin Kesatrian dikenakan pada saat upacara pahargyani atau resepsi pernikahan. Busana pengantin Kesatrian merupakan busana pengantin yang paling sederhana. Meskipun sederhana, namun busana pengantin ini tampak anggun dan berwibawa. Busana pengantin ini bersifat mencerminkan situasi yang santai atau tidak formal. Pada masyarakat umum busana pengantin Kesatrian biasanya juga dikenakan pada saat upacara ngundhuh mantu atau boyongan pengantin.
Busana pengantin kesatrian pada pengantin pria mengenakan blangkon atau tutup kepala, baju surjan kembangan, kalung panjang dengan bros di dada, jam saku dengan rantai panjang menyilang di perut, bebed wiron, dan sandal selop. Sedangkan pada busana pengantin wanita tata riasnya tidak banyak mengenakan kembang goyang, baju panjang kembang tampak longgar tetapi rapi, kain nyamping semotif dengan yang dikenakan oleh pengantin pria serta mengenakan sandal selop.

Busana Pengantin Kesatrian Ageng
Busana pengantin Kesatrian Ageng biasa dikenakan pada saat upacara pahargyan atau resepsi pernikahan. Busana pengentin Kesatrian ageng bersifat semi-formal. Oleh karena itu, busana ini jarang dikenakan pada saat upacara panggih atau upacara bertemunya kedua mempelai pengantin pria dan wanita. Busana pengantin Kesatrian Ageng juga dikenakan oleh Ngarsadalem dan putra-putri pangeran pada tanggal 20 malam bulan maulud. Karena busana ini selalu dikenakan pada tanggal 20 malam, busana ini juga disebut busana malem selikuran
Mempelai wanita mengenakan Paes Yogya Putri, kebaya panjang bahan lace dan kain batik prada, bersanggul gelung tekuk. Mempelai pria mengenakan beskap putri dengan kain batik prada dan blangkon.

Tradisi dan Kontemporer

perpaduan Paes Ageng pada tata rias dengan kebaya panjang berkerah Victorian lengkap dengan kain prada. Atau, riasan Paes Ageng dengan kebaya panjang lace putih aplikasi payet hijau lumut dan kain batik prada




Rabu, 14 Maret 2012

DODOTAN DAN TARI BEDHAYA KETAWANG


Dodot motif alas - alasan
Busana dan tata rias yang dikenakan penari dalam pagelaran tari Bedhaya Ketawang adalah layaknya pengantin putri Kraton Surakarta. Hal tersebut dikarenakan tari Bedhaya Ketawang merupakan reaktualisasi pernikahan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul, sehingga busana yang dikenakan haruslah busana pengantin, yang lazim disebut sebagai Basahan. Busana tersebut meliputi kain dodot, samparan, serta sondher. Dodot merupakan kain yang memiliki ukuran 2 atau 2,5 kali kain panjang biasa, hingga panjang dodot bisa mencapai 3,75 hingga 4 meter. Pada masa lalu, kain ini hanya dikenakan oleh raja dan keluarga serta kaum ningrat untuk upacara tertentu, sepasang pengantin keraton, serta penari Bedhaya dan Serimpi.
Sebagaimana pengantin, maka dodot yang digunakan bermotif alas-alasan. Tarian ini memiliki dua penari utama, yaitu batak dan endhel ajeg yang dapat dibedakan dari warna dodot mereka. Meskipun memiliki motif yang sama yaitu alas-alasan, tetapi warnanya berbeda. Batak dan endhel ajeg mengenakan dodot alas-alasan berwarna hijau gelap yang disebut dodot gadung mlathi, sedangkan 7 penari lainnya mengenakan dodot alas-alasan berwarna biru gelap yang disebut dodot bangun tulak.
Kata bangun tulak berasal dari kata bango dan tulak. Bango merupakan nama sejenis burung yang dipercaya memiliki umur yang sangat panjang. Sementara itu tulak berarti mencegah bala atau kejahatan. Versi lain kain alas-alasan adalah gadhung mlathi yang memiliki lapisan bawah berwarna hijau sesuai dengan makna gadhung dan lapisan tengah berwarna putih sebagaimana warna bunga melati. Kain tersebut dikenakan sebagai bentuk penghormatan pada Kanjeng Ratu Kidul, karena dipercaya beliau sangat menyukai warna hijau. Selain itu hijau merupakan simbol kemakmuran, ketentraman, dan rasa ketenangan. Lembaran kain dodot tersebut dihiasi dengan motif alas-alasan, yang berarti rimba raya. Penamaan ini berkaitan dengan elemen-elemen yang membentuk motif tersebut, yaitu penggambaran seisi belantara yang meliputi aneka jenis hewan dan tumbuhan, yaitu:
a.     Ragam hias garuda
Dalam batik motif semen, motif garuda merupakan motif yang paling tinggi kedudukannya di antara motif lain. Garuda dipercaya sebagai burung dewa, kendaraan Wisnu, dan sekaligus sebagai simbol matahari. Dalam konsep dewa raja, raja diposisikan sebagai titisan Wisnu (dewa pemelihara), sehingga kendaraannya disejajarkan dengan kendaraan Wisnu. Simbol garuda dapat meninggikan kedudukan raja yang berkuasa.
b.     Ragam hias kura-kura
Kura-kura dipercaya sebagai lambang dunia bawah atau lambang bumi. Dalam agama Hindu, kura-kura merupakan penjelmaan Wisnu yang diharapkan akan dapat menjalankan tugasnya menjaga bumi bila bersatu dengan istrinya yaitu Dewi Sri atau Dewi Kesuburan.
c.      Ragam hias ular
Ular dianggap sebagai simbol perempuan dan merupakan bagian dari konsep kesuburan, hujan, samudera, dan bulan. Sementara itu naga sebagai ular dewa merupakan lambang air dan bumi. Watak tersebut dilambangkan sebagai Dewi Sri. Dalam pengertian simbol, naga melambangkan dunia bawah, air, perempuan, bumi, dan yoni.
d.     Ragam hias burung
Burung merupakan lambang dunia atas yang menggambarkan elemen hidup dari udara (angin) dan melambangkan watak luhur. Kadangkala burung menjadi lambang nenek moyang yang telah meninggal atau dipakai sebagai kendaraan roh menuju Tuhannya. Penggunaan ragam hias burung melambangkan bahwa manusia pada akhirnya akan kembali ke asalnya, yaitu kepada Sang Pencipta.
e.     Ragam hias Meru
Motif meru merupakan simbol gunung. Menurut paham Indonesia kuno, gunung melambangkan unsur bumi atau tanah. Pada kebudayaan Jawa Hindu, puncak gunung yang tinggi merupakan tempat bersemayam para dewa. Sementara itu pada pola batik, ragam hias meru menyimbolkan tanah atau bumi yang menggambarkan proses hidup tumbuh di atas tanah.
f.       Ragam hias Pohon Hayat
Melambangkan kesatuan dan ke-Esaan. Bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta
g.     Ragam hias Ayam Jantan
Di Indonesia dipandang sebagai symbol keberanian dan tanggung jawab
h.     Ragam hias kijang
Kijang adalah lambang kelincahan dan kebijaksanaan yang menyimbolkan kelincahan dalam berfikir dan mengambil tindakan serta keputusan.
i.       Ragam hias gajah
Merupakan lambang kendaraan raja yang melambangkan kedudukan luhur, mengandung arti sesuatu yang paling tinggi, paling besar, dan paling baik agar menjadi manusia sempurna.
j.       Ragam hias burung bangau
Burung bangau dipercaya memiliki umur yang sangat panjang bahkan dapat mencapai ratusan tahun. Ia dianggap sebagai lambang penolakan keadaan yang tidak baik, sehingga diharapkan dapat menghindari atau menjauhi bahaya apapun, supaya pada akhirnya dapat meraih keselamatan dan berumur panjang.
k.      Ragam hias harimau
Melambangkan keindahan yang disertai wibawa dan tangguh dalam menghadapi lawan
l.       Ragam hias motif kawung
Motif ini tersusun atas bentuk elips, yang dapat diinterpretasikan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan 4 lembar daun bunganya yang sedang mekar. Bunga ini melambangkan umur panjang dan kesucian. Dewa juga dilambangkan dengan bunga teratai. Berdasarkan hal tersebut, maka motif kawung menyimbolkan kedudukan raja sebagai pusat kekuasaan mikrokosmos sejajar dengan dewa sebagai pusat kekuasaan makrokosmos.
Pada hakikatnya penggunaan kain dodot dengan motif alas-alasan tersebut memiliki harapan yang baik sekaligus sebagai penolak bala. Hal ini sesuai dengan ornamen-ornamen yang digambarkan pada lembaran kain tersebut.
Namun sebelum dodot dipakai, terlebih dahulu dikenakan samparan, yaitu kain panjang yang dikenakan sebagai pakaian dalam bagian bawah. Kain tersebut berukuran 2,5 kacu atau 2,5 kali lebar kain yang dikenakan dengan cara melilitkan kain dari kiri ke kanan. Sisa kain yang biasanya digunakan sebagai wiron diurai ke bawah, di antara kedua kaki mengarah ke belakang sehingga membentuk semacam ekor yang disebut seredan. Pemakaian kain jenis ini disebut samparan. Dalam suatu pagelaran, kain yang digunakan sebagai samparan adalah cindhe dengan motif Cakaran berwarna merah.
Selanjutnya dikenakan sondher, yaitu kain panjang menyerupai selendang yang dikenakan untuk menari. Kain tersebut biasanya memiliki panjang 3 meter dan lebar 50 cm, yang disebut sampur atau udhet. Dalam suatu pagelaran, sondher yang dikenakan bermotif cindhe sekar warna merah, ujungnya berhias gombyok atau rumbai warna emas







Selasa, 13 Maret 2012

BUSANA DAN PERHIASAN PAES AGENG

Busana Paes Ageng :

     Kain Dodot/Kampuh berukuran 4 – 5 meter dengan lebar 2-3 meter. Motif batik yang sering digunakan adalah Sido Mukti, Sido Asih, Semen Rama, Truntum. Motif-motif tersebut mempunyai makna filosofi yang sangat bagus berupa harapan akan berlangsungnya kehidupan rumah tangga yang kekal, saling berbagi dan mengisi dengan cinta kasih dan harapan akan dikaruniai hidup sejahtera
Selain kain panjang, pengantin putri memakai pakaian dalam dan selendang kecil (udet) berupa kain sutra motif cinde. Konon motif ini merupakan lambang sisik naga, yaitu symbol kekuatan. Sumber  lain mengatakan bahwa motif cinde sebagai penghormatan kepada Dewi Sri, dewi kesuburan dan kemakmuran

Asesori Paes Ageng :
Perhiasan yang dipergunakan pengantin putri disebut pula dengan nama raja    keputren. Semua terbuat dari emas bertahtakan berlian yang dirancang dengan seni tinggi dan sangat halus. Set  perhiasan  ini berupa :
  -   Cunduk Menthul
5 tangkai bunga dipasang di atas  sanggul menghadap belakang, menggambarkan sinar matahari yang berpijar memberi kehidupan, sering juga dikaitkan dengan lima hal yang menjadi dasar kerajaan Mataram Islam ini, seperti yang tercantum dalam Kitab Suci.
  -   Pethat/sisir berbentuk gunung
Hiasan berupa sisir terbuat dari emas diletakkan di atas sanggul berbentuk seperti gunun, sebagai simbol kesakralan. Dalam mitologi Hindu, gunung adalah tempat bersemayam nenek moyang dan tempat tinggal para dewa serta pertapa.
  -   Kalung Sungsun (kalung terdiri 3 susun)
Melambangkan 3 tingkatan kehidupan manusia dari lahir, menikah, meninggal. Hal ini dihubungkan dengan konsepsi Jawa tentang alam baka, alam antara, dan alam fana
  -   Gelang Binggel Kana
Berbentuk melingkar tanpa ujung pangkal yang melambangkan kesetiaan tanpa batas
  -   Kelat Bahu (perhiasan pada pangkal lengan)
Berbentuk seekor naga, kepala dan ekornya membelit. Melambangkan bersatunya pola rasa dan pikir yang mendatangkan kekuatan dalam hidup. Dalam mitologi Jawa, Naga merupakan hewan suci yang dipercaya menyangga dunia
 -   Centhung
Perhiasan berupa sisir kecil bertahtakan berlian di letakkan diatas dahi pada sisi kiri dan kanan. Melambangkan bahwa pengantin putri telah siap memasuki pintu gerbang kehidupan rumah tangga
   -   Cincin
Menurut beberapa serat yang ditulis sejak jaman Sultan Agung seperti serat Centhini, serat Wara Iswara (Sunan PB IX) ditulis bahwa para putrid tidak diperkenankan memakai cincin di jari tengah. Karena sebagai symbol satu perintah untuk diunggulkan, yaitu milik Tuhan. Cincin di jari manis sebagai symbol untuk senantiasa bertutur kata manis. Cincin di jari kelingking symbol untuk selalu trampil dan giat dalam mengerjakan pekerajaan rumah tangga. Cincin di ibu jari sebagai symbol untuk senantiasa melakukan pekerjaan dengan ikhlas dan terbaik.


Parameswara Dodotan melayani pemesanan dodotan kain maupun potongan jadi gaya solo, jogja, kombinasi jogja solo, beserta patah 
juga melayani pemesanan aksesoris perhiasan pengantin dan pernik2 pengantin lainya

pemesanan hubungi kami di: